Didi, sosok mahasiswa tinggi badan 175cm, relatif kurus namun dengan otot yang kenyal padat pejal, V-shaped bahu bidang pinggang ramping, kulit hitam bahkan sampai kebibirnya juga merah kehitaman, rambut cepak, daun telinga kiri dengan anting perak, dengan tampang wajah pemberontak yang lembut hati – matanya belok besar namun bila memandang sesuatu tajam seakan menyimpan dendam amarah, jago dalam segala jenis olahraga dikampus terutama yang bersifat fight… tampangnya menjadi bringas untuk memenangkan pertandingan tersebut sehingga sering dijuluki “pembunuh berdarah dingin” oleh teman-temannya… sangat sedikit berbicara relatif diam, cool, bila diantara keramaian riuh rendahnya suasana kampus yang didominasi oleh siswa pria itu. Aura jantan perkasa membuat dia selalu jadi inceran cewe-cewe binal baik dikampus maupun diluar kampus yang terkadang secara sengaja menyentuh mengusap meremas tonjolan kontol gedenya, namun Didi tidak menanggapinya, dingin, bahkan berkali-kali ada saja godaan untuk menjadi pejantan gigolo tante-tante yang haus dahaga akan kontol remaja dengan imbalan sejumlah uang juga tak pernah digubris oleh Didi.
Berasal dari keluarga ekonomi kelas bawah, broken home, ayahnya preman yang jarang tinggal dirumah karena banyaknya wanita simpanan dimana sudut kota ini. Abangnya satu orang meninggal oleh karena over dosis. Kakak perempuannya ditahan dipanti rehabilitasi sosial karena berulang kali tertangkap menjajakan diri di kota ini, satu orang adiknya meninggal sewaktu ada wabah demam berdarah dan masih ada tiga orang lagi adiknya yang masih kecil. Potret tentang keluarga miskin, ekonomi lemah, pendidikan kurang, keahlian tidak punya selain ngentot !
“Jangan mas, anakmu masih bangun mas… jangan… ahh maaas…” ibunya Didi selalu saja seakan tak kuasa menolak hasrat seks suaminya ketika si pemabuk itu berkehendak“Alah daripada aku ngentot ama lonte… ayoh buka memek elo…” kontol ayah Didi sudah mencuat tegak item gede meradang menerjang memek tanpa ampun.
Semenjak kecil Didi sudah tidak asing lagi melihat orang ngentot didepan matanya yang masih polos waktu itu, yaitu bila ayahnya pulang dalam keadaan mabuk berat dan menyeret memaksa istrinya, ibunya Didi, untuk dientot didepan matanya… bukan hanya memek yang dihajar oleh kontol ayahnya, terkadang lobang pantat atau bergantian antara memek – lobang pantat – memek, bahkan mulut ibunya Didi juga tak luput dari sodokan rojokan batang kejantanan si jahanam tersebut. Semua kejadian demi kejadian tersebut terekam dengan baik tersusun rapi dalam hard disk otak si kecil, Didi.
“Ahh mas… sakit, jangan dilobang pantat mas.. sshh… ahh… sakit mas…”“Arrgghh… biar sakit yang penting enak khaan… hrrgghh.. aahh.. hrrgghh.. aahh”bila tak mendapatkan apa yang diinginkan oleh ayahnya maka dia tak segan-segan memukul menampar bahkan meninju ibunya sampai bengkak berjejas merah terkadang berdarah… biadab !
Namun yang sangat membuat Didi terpukul adalah ketika sepupunyanya dari fihak ibu tinggal serumah dengan mereka sementara mencari pekerjaan serabutan di kota ini. Pada saat itu ketika Didi telah kuliah, ayahnya sudah mulai jarang tinggal dirumah karena sudah mempunyai wanita simpanan, sementara ibunya Didi selalu pergi dini hari kepasar induk membeli sayuran untuk kembali dijual disekitar kompleks perumahan mereka dan sore hari menjadi buruh cuci untuk mencukupi kebutuhan ekonomi mereka. Orang yang diharapkan oleh Didi sebagai pelindungnya pengganti ayahnya yang tak dapat diharapkan olehnya justru membawa malapetaka langsung kepada dirinya.
Berawal dari tidur bareng bersisian dengan sepupunya tersebut, pada suatu malam yang dingin oleh hujan yang mengguyur kota ini sejak sore hari, Didi setengah terjaga antara mimpi dengan bangun dia merasakan sentuhan dekapan belaian yang menjelajahi sekujur tubuhnya, kecupan jilatan menyentuh belakang lehernya ke telinga dan sebuah tonjolan keras berdenyut denyut disela pahanya… kontol sepupunya ! Keesokan hari dia bangun dengan lumuran pejuh kering disekitar selangkangan dan seolah tidak terjadi apa-apa sikap sang sepupunya biasa saja. Kejadian demi kejadian berulang kali dialaminya dan akhirnya…
“Umm… sshh aahh, kontol elo gede juga ya Diantara percaya dengan tidak Didi terjaga dari tidurnya dan melihat sepupunya sedang mengisap kontolnya dengan ekspresi penuh kenikmatan“Jangan sepupunya… ahh, jangan…”Didi berusaha mendorong kepala sepupunyanya yang menempel diselangkangannya“Napa seh Di… kan mas mau buat elo enak koq… sluurrpphh ahh sluurrpphh arrgghh”“Umm.. errghh, Kontol elo gede amat seh Di, slurrpphh… keras lagee… aahhh, ummm… enak sekalee… slurrpphh aahhh…”seakan kehabisan kata-kata pada saat itu Didi tak dapat mengelak lagi dari emutan mulut rakus dikontolnya yang sudah ngaceng… agaknya kontol Didi persis merupakan cetakan kontol ayahnya yang item gede, sangat gede untuk ukuran remaja seumuran dia kala itu, ditambah lagi rangsangan seksual yang diperolehnya sejak dini membuat lucutan kadar hormon seks jantan Didi terstimulasi dengan baik… dia sudah biasa onani sejak SMA.
Ada saja alasan sepupunyaa untuk menikmati kontol Didi kala itu…“Kalau elo entotin cewe ntar si cewe bisa hamil lo…, atau elo bisa kena penyakit kelamin, sifilis – kencing nanah, ntar kontol elo bisa prothol”Hari itu untuk pertama kalinya pula kontol Didi masuk kedalam lobang pantat sepupunyanya… dalam keadaan telentang diam mematung kontol Didi dituntun oleh sepupunyanya yang duduk mengangkanginya masuk kedalam lobang pantat sepupunyanya yang durjana, bagaikan menunggangi kuda sepupunyanya menggenjot kontol Didi mengaduk aduk liang anus sampai akhirnya Didi muncrat berkali kali membasahi membanjiri rongga usus orang yang seharusnya dihormatinya, orang yang diharapkannya melindunginya… bangsat !
Jelas luka telah tertoreh dilubuk hati Didi dan membuat dia semakin jadi pendiam baik dirumah maupun dikampus. Didi merasakan sesuatu yang dapat memuaskan nafsu amarahku ketika aku mengentoti sepupunya… seakan membalas dendam kesumat kepada ayahku, kepada … serasa aku menusukkan pisau belati atau parang panjang menghabisi diayang membuat hidupku selama ini begitu tertekan… melihat sepupunya terengah-engah mendesah mengerang mengejang ketika kontolnya menghajar lobang pantatnya ataupun mengentoti mulutnya, Didi semakin bringas, bagaikan melihat ayahnya terengah-engah menjelang ajalnya… lega ! puas ! nikmat !.
“Arrgghh.. Didi sshh ahh, kontol elo gede banget Di, duh sakit.. tapi enak… entotin aku Di… sshh aaaahhhh… enaaak… oohh fuck me di… fuck me harder… oh shit ! aarrgghh…”oom Sepupunya didi menggeliat menggelinjang meringis ketika Didi menghunjamkan kontolnya kelobang pantatnya kala itu tanpa pelumas sedikitpun sehingga anusnya robek berdarah“Ho-oh memek elo juga enak banget neh.. lebih enak dari memek beneran sshh aaahh sshh aaahh…”dia hunjamkan kontolnya berulang kali sedalam mungkin kedalam liang sanggama sepupunya sambil sesekali menjelajahi dinding liang anusnya dengan batang kontolku.
Didi juga sangat senang melihat sepuunya yang merayap menghiba-hiba padanya untuk minta dientot bahkan menjilati telapak kakiku mengemut jari jemari kakinya hingga bersih sebelum akhirnya naik ketungkai bawah ke paha dan berakhir dengan jilatannya pada lobang pantatnya biji pelernya dan batang kontolnya. Tanpa rasa kasihan sedikitpun terkadang didi mengencingi mulut sepupunya dan menghardik dia agar tidak menumpahkan setetespun air kencingnya dari mulutnya yang terbuka lebar menerima semburan kencingnya itu… arrgghh, bayangan wajah ayahnya selintas tergambar diwajah sepupunya kala itu membuat Didi semakin puas seakan membalas dendamnya kepadanya, semakin menderita ekspresi sepupunya ketika dia entot semakin dahsyat pula rasanya muncratan pejuhnya… ccrrootthh.. ccrrootthh.. aarrgghh.. ccrrootthh.. ccrrootthh.. aarrgghh.. gila.
Pagi hari minggu didi mendatangi rumah Eko, teman kampusnya yang biasa Didi entot. Hari itu aku sangat horny setelah semalaman melihat dari jarak dekat dipinggir kolong jembatan dekat rumahnya 4 orang remaja brandalan memperkosa banci yang sering berkeliaran didaerah perumahanku… antara mau dengan tidak si banci akhirnya menjadi bulan-bulanan mereka dari jam 1 dini hari hingga menjelang azan subuh, bagaikan kawanan serigala lapar mengerubuti rusa empuk mereka berulang kali mengentoti banci tersebut dilobang pantat dimulut bahkan sekaligus dua kontol masuk kelobang pantat dan dua kontol menghajar mulut si banci, sementara Didi dan seorang temannya sambil ngloco menikmati pemandangan erotik tersebut.
“Gila lo Didi, ngapain pagi-pagi begini kerumahku… eh, cewekku lagi ada dirumah”Eko terperanjat panik gelisah melihat kehadiran didi sepagi itu dihalaman rumahnya“Kontol gw lagi ngaceng berat neh say” kata didi“Aduh gimana yah… ntar aja deh aku telefon yah, neh… uang untuk…”“Gw mo ngentot memek lo! bukan mau uang elo !” Didi marah sambil mendorongnya kedalam garasi,“Di… jangan… ntar Cewekku…”“Tai kucing ama ceweelo, gw mo entotin elo sekarang juga… isep !” Didi sudah mengeluarkan batang kontolnya yang sudah tegak ngaceng sejak dini hari tadi dan menangkap kuduk Eko mengarahkan kepalanya merunduk mendekati kontolnya,“Gila lo Di… pagi segene udah ngaceng berat… umm…” dasar lelaki sakit !, Eko antara takut dengan ceweknya dan dengan pengen kontol akhirnya segera mengulum kontol Didi. “Arrgghh… isep yang dalam say… ho – ooh.. jilat.. ayoh kulum kontolku say”,kata Didi.
Ujung lidah Eko mengkilik-kilik lobang kencing Didi yang sudah basah oleh pre-cum, air liurnya sudah membasahi batang kontolku hingga licin mengkilat… terkadang Eko memasukkan seluruh batang kontolnya hingga kandas sampai jembut Didi memenuhi sekeliling bibirnya dan kepala kontolnya keluar masuk ke kerongkongannya… aarrgghh… Didi kelojotan menggelinjang keenakan akan sedotan Eko dibatang kejantanannya. Tubuh Eko akulalu Didi angkat dan dibaringkan telentang dikap mobilnya, kedua kakinya dinaikkan ke bahunya dan bagian pantat celana piyama yang dipakainya dia robek.. shrriieekk… bless ! kepala kontolnya sudah menyeruak masuk menerobos cincin anusnya.“Arrgghh… bastard ! kontol elo… ahh.. shh.. enak.. ahh.. shh.. gila lo..
Di… ahh.. shh.. dasar brondong gila seks lo ah… duh enak..”ekspresi antara meringis sakit takut kepergok ceweknya dengan enak ketagihan kontol Eko mendesis mengerang ketika kontolku berulang kali keluar masuk cincin anusnya“Enak khan say… elo suka kontolku khan… arrgghh… elo ketagihan dientot ama kontol ini khan… umm… memek elo udah basah neh…”“Shh.. ahh.. entotin aku, arrgghh.. hajar memekku dengan buas Di… ahh kontol elo gede banget… c’mmon fuck me harder… oh shit !… i’m cumming man… ooooohhh aaaaaaahhhh….. i’m cumming”Eko memuncratkan pejuhnya dengan berulang kali menghentak-hentakkan pinggulnya ke kontolku yang tertancap dalam lobang pantatnya sambil mengeleng gelengkan kepalanya kekanan kekiri seirama dengan muncratan pejuhnya… tumpahan pejuhnya aku ambil dengan jariku dan aku masukkan kemulutnya..“hmm… jilat pejuhmu ini honey… elo suka ama pejuh khan… umm… enak khan…”
Eko menjilati jari tangan Didi yang berlumuran pejuhnya sendiri dan Didi mulai kembali menggenjot merojokkan kontolnya semakin kuat semakin cepat dan semakin dalam memelintir-melintirkan kontolnya mengaduk jeroannya sampai kembali dia ngaceng dan… muncraaaat… aarrgghh… muncraaatt… Didi juga menggeletar menggigil mengejang memuntahkan hamburan pejuhnya yang sudah dari tadi malam menunggu untuk dimuncratkan.
Telefon genggam Eko berbunyi, ternyata cewenya sedang mencarinya didalam rumah karena sebentar lagi mereka harus bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan kerabat mereka, sementara kontol didi masih tertancap dalam dan berdenyut-denyut didalam liang senggama Eko, dia mengambil hp dan menjawab…“Iya say… akusedang bersihin busi neh… iya say, i’m coming say… mamah bersiap dulu deh”.
Didi hanya bisa tersenyum saja melihat kelakuan Eko, menjilati kontolnya yang baru saja dicabut dari lobang pantatnya, berlumuran sisa pejuh bercampur kotorannya sendiri, hmm… membersihkan busi atau memberihkan kontol nih… he he he… dasar sakit !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar